Selasa, 14 Mei 2013

pontianak_post

Korelasi Studi Islam dan Sosiologi

A.  Pendahuluan
Studi islam merupakan disiplin ilmu yang tidak hanya mengkaji teologi atau konsep ketuhanan yang tebatas pada hubungan manusia dengan tuhannya namun studi islam kajiannya lebih konpleks lagi yaitu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia,sebagai mana dalam di jelaskan dalam buku sosiologi islam yaitu agama tidak hanya berkaitan dengan ketuhanan, tetapi juga berkaitan dengan bidang-bidang kehidupan lainnya.[1] Dalam pendekatan normatif, agama (islam) dipahami sebagaimana dalam sebuah kutipan, yaitu: “segala yang ditetapkan oleh allah untuk hambanya yang menyangkut akidah,ibdah,akhlak,muamalah dan aturan-aturan hidup lainnya yang bermacam-macam untuk kebahagiaan dunia dan akhirat[2].” Studi islam sebagai sebuah disiplin ilmu sebenarnya sudah di mulai sejak lama. Studi ini mempunyai akar yang kokoh di kalangan sarjana muslim dalam tradisi keilmuan tradisional, mereka telah mengupayakan interpretasi tentang islam dan ini terus berlanjut hingga sekarang.[3]
Sedangkan sosiolog (secara sederhana ilmu tentang masyarakat) esensya telah ada sejak menusia itu ada[4]. sedangkan menurut pendapat agust comte sosiolog merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terahir dari perkembangan ilmu pengetahuan[5]. Istialah sosiologi baru diperkenalkan oleh agust comte abad ke-19, yang kemudian dia di kenal sebagai bapak sosiologi modern, padahal jauh sebelumnya kajian sosiologi telah di lakukan oleh ibnu khaldun namun saat itu ibnu kaldun belum mengenalkan istilah sosiologi. Sosiologi termasuk disiplin ilmu yang masih baru, namun dalam masa yang relative singkat sosiologi berkembang dengan begitu cepat hingga menjadi suatu ilmu yang kuat, di mulai dengan upaya memetakan objek kajian sosiologi sehingga ilmu ini dapat di pisahkan dari filsafat dan psikologi yag ketika itu sudah menjadi bidang ilmu yang kuat, hingga pada penguatan teori dan metodologi sebagai mana yang dilakukan marx, Durkheim, dan max weber.emeil Durkheim misalnya menegaskan bahwa bahwa yang menjadi objek kajian sosiologi adalah fakta social yang kemudian menisahkan objek kajian sosiologi dengan psikologi[6].
Studi islam dan sosiologi merupakan dua disiplin ilmu yang berbeda hal inilah yang menjadi pertanyaan apakah di antara dua disiplin ini ada korelasi di dalamnya? apakan studi islam megakaji sosiologi? Dan apakah sosiologi juga melakukan pengkajian pada islam?. Hal ini perlu kiranya untuk di diskusikan lebih mendalam karena mengingat sosiologi terus mengalami perkembangan dengan pesatnya, maka dalam hal ini penulis akan mencoba untuk mengkorelasikan antara dua disiplin ilmu ini dengan malakukan perbandingan dan mencari kesamaan dan perbedaan antara keduanya dengan tujuan mengetahui kelebihan dan kekuragannya.

B.   Masyarakat
Masyarakat merupakan kumpulan individu-individu yang bersepakat untuk hidup bersama, entah atas dasar kepentingan-kepentingan bersama atas dasar factor-faktor ideologi[7]. Dalam defnisi lain masyarakat adalah kumpulan dari sekian banyak individu kacil atau besar yang terikat oleh satuan adat,ritus atau hukum khas dan hidup bersama[8]. Begitulah deinisi masyarakat dari sekian banyak definisi.
Masyarakat sebagai objek kajian sosiologi dan studi islam bisa kita korelasikan  melalui beberapa konsep  sebagai berikut yaitu:
1.         Konsep Stratifiksi Social
Dalam studi islam konsep stratifikasi social tidak akan pernah kita temui yang akan kita temui dalam konsep islam bagaimana mengargai dan menghormati orang tua, guru,kiayi dan antara sesama yang di kenal dengan istialah ahlak, karena dalam islam semua derajat atau kedudukan manusia atau kelompok semuanya sama di hadapan allah, hal ini sesuai dengan firman allah yang artinya sesungguhnnya yang paling mulia diantara kamu dihadapan allah adalah yang paling bertakwa [9].dari ayat di atas dapat kita ketahui bagaimana pandangan islam terhadap manusia atau sebuah kelompok, berkaitan dengan sejarah nabi Muhammad saw bagaimana beliau mempersaudarakan antara shahabat anshor dengan shahabat muhajirin, mengadakan perjanjian saling membantu, antara kaum muslimin dengan orang-orang yang bukan islam[10]. Hal ini menunjukan bahwa tidak adanya suatu kelompok dalam lapisan masyarakat yang lebih tinggi atau lebih rendah. Namun berbeda dengan kajian sosiologi tentang stratifisi social ini, dalam disipisplin sosiologi kita akan di menemukan berbagai bentuk pelapisan masyarakat, tentang bagaimana bentuk-bentuk konkret stratifikasi social dalm masyarakat, pada dasarnya dapat dapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu: kelas ekonomi,politik, ilmu pengetahuan, dan sistem nilai yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat tertentu[11]. Hal ini menunjukan adanya kesingkronisasian antara dua disiplin ilmu ini, yang terletak pada perbedaan pandangan mengenai kedudukan individu sebagai manusia atau kelompok masyarakat, tetapi walaupun demikian tidak bisa pungkuri bahwa Indonesia yang mayoritas beragama islam sistem stratifikasi social ini akan banyak kita temui dalam setiap lapisan masyarakat, walaupun pada hakikatnya dalam pandangan islam manusia itu sama dalam artian tidak ada yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah baik yang kaya,miskin, berpendidikan, bertahta, bertahta, atau yang yang memegang kekuasan semuanya sama.

2.      konsep social politik dan resolusi konflik
            dalam studi islam konsep social politik juga menjadi pokok kajiannya hal ini telah  di gambarkan oleh nabi bagaimana dia memimpin masyarakat madinah yang sangat hetegen saat itu, metodelogi yang di gunakan nabi untuk mengaawali kepemimpinan politiknya yaitu dengan membuat perjanjian atau kesepakatan dengan jalan musyawarah antara umat islam dan non islam yang kemdian perjanjian itu di kenal dengan piagam madinah, hal ini di buat untuk menciptakan keharmonisan dalam masyarakat yang mana saat itu masyarakat madinah dengan keheterogenitasannya sering sekali terjadi konflik, manun setelah nabi hijrah ke madinah konflik yang sebelumnya sering terjadi tidak lagi terajadi, hal ini terbukti bahwa  sistem perjanjian atau kesepakatan dengan jalan meusyawarah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kepemimpinan beliau yang dibuat sebelumnya, dalam al-qur’an juga di jelaskan mengenai konsep kesepakatan dengan jalan musyawarah ini yang artinya dan bermusyawaahlah dalam setiap perkara. Hal ini menunjukan bahwa islam itu cinta damai dan persatuan, serta islam tidak melakukan paksaan kepada siapapun untuk melakukan perdamaian atau persatua atau pihak manapun hal ini sesuai  dengan bingbingan al-qur’an bahwa tidak ada paksaan dalam masalah agama. Walaupun masalah konflik, perdamaian dan persatuan bukan masalah yang berkenaan dengan praktek pelaksanaan agama, namun dalam hal ini islam sebagaimana yang nabi saw contohkan dalam memimpin politik kota madinah dengan jalan damai yaitu dengan jalan musyawarah.
            Dalam ilmu sosiologi masalah perdamain, integrasi dan konflik akan berbanding terbalik walaupun ada kesamaan, dalam konsep islam, kita hanya di kenalkan dengan satu solusi dalam menyelesaikan masalah maka dalam disiplin ilmu sosiologi kita akan di perkenalkan dengan beberapa solusi dalam mengatasi konflik seperti yang dikatakan oleh pemikir yaitu Rothman dia mengatakan bahawa untuk mengatasi berbagai konflik yang ada dalam masyarakat, maka perlu dilakukan beberapa tindakan, yaitu:
(1)Tindakan koersip (paksaan), perlu ada pengaturan administrative, penyelesaian hokum, tekana politik dan ekonomi. (2) Memberikan insentif  seperti penghargaan kepada suatu komonitas akan keberhasilannya dalam menjaga ketertiban dan keharmonisan. (3) Tindakan persuasip, terutama terhadap ketidakpuasan yang dihadapi masyarakat yang dihadapi masyarakat dalam menghadapi realitas social, politik dan ekonomi. (4) Tindakan normative, yakni melakukan proses membangun persepsi dan keyakinan masyarakat akan sistem social yang akan dicapai[12].
            Begitulah tawaran disiplin kajian sosiologi yang merupakan solusi dalam mengatasi konflik, banyak sekali alternatif  yang bisa kita gunakan dalam mengatasi konflik,  tidak seperti islam yang hanya terfokus dengan satu solusi saja, namun kita tidak bisa menafekan bahwa dalam mengatasi konflik ini ada kesamaan antara studi islam dan sosiologi yang, yaitu: kesepakatan antara dua belah pihak dengan jalan musyawarah. walaupun islam hanya menawarkan satu solusi saja namun kita juga tidak bisa menafekan juga bahwa cara ini sangat ampuh hal ini telah di buktikan oleh nabi saw dengan keberhasilannya saat memimpin politiknya di kota madinah. dari apa yang paparkan di atas, ini menunjukan bahwa ada korelasi antara dua disiplin ilmu ini yang terletak pada objek dan subjek kajiannya.

C.    Argumentasi
Islam merupakan agama rahmatal lil’alamin dalam studinya akan terus mengalami mengalami perkebangan seiring semakin banyaknya serjana muslim baik yang ada di Indionesia maupun negeri luar sana, hal ini karena banyaknya penelitian yang di lakukan oleh para serjana muslim atau oleh para ilmuan lainnya yang menujukan kebenaran misalnya penelitian tentang hukum-hukum islam yang berkenaan dengan diharamkannya memakan babi, ternyata setelah di lakukan penelitian babi itu mengandung cacing-cacing yang mana jika dimakan oleh manusia itu akan membahayakan bagi tubuhnya, hal inilah yang mendorong para serjana muslim dan para peneliti baik yang muslim atau yang non muslim untuk terus melakukan penelitian lebih mendalam lagi tentang islam baik yang berkenaan dengan akidah, ibadah maupun muamalah, dan hal jugalah mengapa studi islam ini akan terus mengalami kemajuan. Begitu juga dengan sosiologi yang merupakan ilmu social atau ilmu tentang kemasyarakatan singkatnya akan terus mengalami perkembangan apalagi sosiologi telah menjadi disiplin ilmu tersendiri memisahkan dari psikologi dan filsafat, hal ini karena sosiologi telah memenuhi syarat sebagai ilmu yaitu: empiris, teoritis, kumolatif dan no etis. Maka seiring perubahan zaman dan peradaban manusia sosiologi sebagai ilmu akan terus mengalami kemajuan, walaupun saat ini masih minim sekali para sosiolog yag mengkaji islam sebagai kaiannya namun kedepannya kajian sosiologi itu akan terus mengalami kemajuan, apalagi saat ini banyak universitas yang membuka jurusan sosiologi yang mengintegrasikan sosiologi dengan agama. Walaupun sosiologi ini termasuk disiplin ilmu yang masih baru yang dilahirkan oleh filsafat dan psikologi namun sekarang studi ini telah menunjukan ke majuannya sebagai ilmu yang empirik. Hal ini yang menjadi alasan mengapa studi Ini kedepannya akan terus mengalami kemajuan. Apalagi saat ini banyak sekali serjana sosiologi khususnya Indonesia itu artinya semangkin banyak pula pemikir yang memberikna pemikirannya untuk mengembangkan sosiologi.
DAFTAR PUSTAKA

Cecep Ihsani, Kisah Nyata 25 Nabi dan Rasul, Cet. Ke-1, Surabaya: dua Media, 2011.
Dr. Ishomuddin, Sosiologi Perspektif Islam, Cet. Ke-1, Malang: Universitas Muhammadiyah, 2005, 
H.akh.minhaji, Starategies for Social Research, Cet. Ke-1, Yogyakarta: Suanan Kalijaga Press, 2009
Richard c. Martin, Pendekatan Pengkajian Islam dalam Studi Agama, Alih Bahasa Zakariyudin Bhaidawi, cet. 2, Surakarta: Muhammadiyah Universitas Press, 2002,
Syarifuddin Jurdi, Sosiologi Islam Elaborasi Pemikiran Social Ibnu Khaldu,cet. Ke-1 Yogyakarta: Badang Akademik Uin Sunan Kalijaga, 2008.
----------, Sosiologi Islam dan Masyarakat Modern,Cet. Ke-1,Jakarta: Kencana, 2010.


[1] Syarifuddin Jurdi, Sosiologi Islam Elaborasi Pemikiran Social Ibnu Khaldu,cet. Ke-1, (Yogyakarta: badang akademik uin sunan kalijaga, 2008), hal. 187
[2] H.akh.minhaji, starategies for social research, cet. Ke-1, (Yogyakarta: suanan kalijaga press, 2009), hal. 56
[3] Richard c. Martin, pendekatan pengkajian islam dalam studi agama, alih bahasa Zakariyudin Bhaidawi, cet. 2, (Surakarta: muhammadiyah universitas press, 2002), hal. Pengantar.
[4] Dr. Ishomuddin, Sosiologi Perspektif Islam), Cet. Ke-1, (Malang: Universitas Muhammadiyah, 2005), hal. 1
[5] Syarifuddin Jurdi, Sosiologi Islam Elaborasi Pemikiran Social Ibnu Khaldu,cet. Ke-1 (Yogyakarta: badang akademik uin sunan kalijaga, 2008), hal. 1
[6] Dr. syarifuddin, sosiologi islam dan masyarakat modern,cet. Ke-1, (Jakarta: kencana, 2010), hal. Kata pengantar.
[7] Syarifuddin Jurdi, Sosiologi Islam Elaborasi Pemikiran Social Ibnu Khaldu,cet. Ke-1 (Yogyakarta: badang akademik uin sunan kalijaga, 2008), hal. 189

[8] Dr. Ishomuddin, Sosiologi Perspektif Islam), Cet. Ke-1, (Malang: Universitas Muhammadiyah, 2005), hal. 52.